top of page

Mengenal 4 Fase Siklus Menstruasi yang Patut Kamu Ketahui


*Artikel ini telah diperiksa oleh dr. Agani Salsabila.


Saat berbicara tentang menstruasi, yang muncul di benak adalah tujuh hari yang dipenuhi dengan mood swings, kram perut, mengidam makanan, dan banyak perubahan lainnya—baik secara fisik maupun emosional. Tujuh hari yang bisa terasa overwhelming. Namun terkadang kita lupa bahwa tujuh hari tersebut hanyalah salah satu fase dari seluruh siklus menstruasi, yang totalnya memiliki empat siklus, yang berlangsung selama kurang lebih satu bulan. Ya, kedengarannya lebih rumit dari yang kita kira, tapi itulah mengapa berbagai perubahan terjadi saat haid. Those changes are normal, and you can handle them (we know you can!).


Untuk lebih mengenal tubuhmu dan apa yang tubuhmu butuhkan selama menstruasi, mari pahami empat fase menstruasi yang kamu lalui setiap bulannya—semua perubahan yang terjadi, dan alasan di baliknya. Get to know your body so you can treat it better next month.


NOTE: Panjang setiap fase bisa berbeda untuk setiap perempuan, dan bisa berubah seiring waktu. Hubungi dokter kalau kamu mengalami gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari.


Day 1 to 5: Menstruation

First is the menstruation period. Fase menstruasi dimulai dari hari pertama hingga kelima, menandakan awal siklus setiap bulannya. Pada fase ini kadar hormon progesteron, yang bertugas untuk mengatur siklus haid dan menyiapkan rahim untuk kehamilan, menurun secara drastis hingga dinding rahim luruh. Yes, inilah di mana kamu mulai merasa lebih lelah dari biasanya, serta mengalami nyeri di bagian perut.


Things to do: Pastikan kamu mendapatkan istirahat yang cukup. Rasanya ‘baterai’ kamu habis pada fase ini, so take your time to recharge.


Day 6 to 13: Follicular (Proliferative)

Selanjutnya adalah fase folikular, yang dimulai dari hari keenam hingga ke-13 (alias hari pertama hingga terakhir haid). Selama fase ini, tubuhmu melepaskan hormon perangsang folikel untuk membantu proses pematangan sel telur dan menyiapkan ovulasi (pelepasan sel telur matang dari rahim). Selama fase ini kadar hormon estrogen dan testosteron mulai meningkat, so jangan kaget kalau kamu merasa lebih energik dan dipenuhi mood positif.


Things to do: Apa pun yang ingin kamu lakukan, do it now! Manfaatkan energi yang kamu miliki selama fase ini untuk menjadi lebih produktif. Ini bukan berarti kamu harus kerja 24/7. Kamu juga bisa menggunakan fase ini untuk mencoba hobi baru yang selama ini tertunda.


Day 14: Ovulation

Inilah puncak siklus yang telah berlangsung selama dua minggu. Fase ovulasi berarti sel telur sudah matang dan siap dilepas untuk pembuahan. Di fase ini sex drive dan rasa percaya dirimu cenderung meningkat. Alasannya? Kadar hormon estrogen dan testosteron berada di puncak.


Things to do: Gunakan waktu ini untuk bersosialisasi (mumpung kamu sedang merasa super confident, benar?), atau luangkan quality time bersama si dia *wink*.


Day 15 to 28: Luteal (Secretory)

Last but not least, the luteal phase. Setelah ovulasi, sisa folikel akan berubah menjadi corpus luteum yang memproduksi hormon progesteron di fase luteal untuk mengantisipasi potensi kehamilan. Jika telur tidak dibuahi, kadar progesteron akan menurun drastis, mengarah kembali ke day 1 alias awal siklus menstruasi. Di sinilah gejala PMS terjadi, terutama kalau kamu sensitif terhadap progesteron.


Things to do: Self-care time! Lakukan aktivitas yang membuatmu rileks dan bahagia—yoga, binge-watch serial televisi favorit, mandi air hangat, anything!


***

Artikel ini bertujuan untuk menyampaikan informasi dari dokter dan praktisi medis. Artikel ini bukan, dan tidak dimaksudkan sebagai, pengganti saran ahli medis, diagnosa, atau pengobatan, dan tidak boleh diandalkan untuk nasihat medis tertentu.


We crack open taboos and talk about all things reproductive health. Follow UMA on Instagram.

Comments


bottom of page